healthy relationship.. (in dating).. part 1

ramalan-cinta-tahun-2011

Semakin bertambahnya umur seseorang maka kebutuhan emosional semakin bertambah. Ketika memasuki usia remaja, seseorang mulai mendambakan kasih sayang dan perhatian selain dari orang tua atau orang-orang terdekatnya. Ditambah dengan hormon-hormon tubuh yang mulai bereaksi, yang sering diawali dengan masa pubertas, membuat ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan sesuatu yang wajar.

Menurut Wikipedia, masa pubertas biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Di umur-umur seperti ini juga manusia berusaha keras mendapatkan “jati dirinya”. Jati diri tersebut diasumsikan berbeda-beda, tergantung budaya, tepatnya pemahaman lingkungan sekitarnya. Ada yang berpandangan bahwa dengan merokok, drugs, menjadi anggota gank,meniru-niru gaya artis tertentu, punya koleksi barang tertentu, hingga berpacaran membuat seseorang telah mendapatkan jati diri sesungguhnya. Apa yang mereka peroleh melalui hal-hal tersebut, diwujudkan atau tepatnya ditunjukkan ke lingkungannya, dengan harapan mereka dapat diterima dan memperoleh pengakuan, itulah jati diri menurut mereka. Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya?

Menurut saya, umur-umur pubertas, bahkan hingga umur 20-30 tahun, merupakan sasaran utama Iblis untuk melancarkan serangannya dengan gencar. Mengapa saya katakan demikian? Karena umur-umur tersebut merupakan umur seseorang untuk produktif dan memaksimalkan setiap talenta yang Tuhan telah berikan. Dengan kata lain, masa tersebut merupakan kesempatan terbesar untuk membangun masa depan sebaik-baiknya. Sama halnya dengan sebuah bangunan, jika dasarnya keropos atau tidak kokoh, maka ketika badai atau guncangan datang, maka runtuhlah bangunan tersebut. Demikian halnya yang berada dalam benak Iblis. Mereka akan berusaha meruntuhkan dasar-dasar kehidupan manusia yang seharusnya mereka menjadi produktif dan mengenal dengan baik siapa penciptaNya. Sehingga di masa mudanya, mereka tidak bisa melakukan apa-apa, tepatnya tidak menciptakan dasar yang baik untuk masa depannya.

Banyak orang terlalu menaruh perhatian bahwa narkotika, pornografi dan pergaulan bebas merupakan penghalang terbesar kemajuan suatu generasi muda. Sehingga mereka sebisa mungkin memproteksi orang-orang yang dikasihinya terhadap ke-3 hal tersebut. Tanpa disadari bahwa ada suatu jerat Iblis yang juga sangat nyata mengancam generasi muda, yaitu berpacaran yang tidak sehat.

Banyak saya temukan orang-orang menaruh standar yang sangat rendah terhadap suatu hubungan berpacaran. Bahwa pacaran menjadi suatu sarana untuk menghilangkan rasa sunyi, sebagai penyemangat dalam belajar dan beraktivitas hingga sebagai tempat “latihan” sebelum pernikahan, merupakan suatu pemahaman yang keliru, tetapi telah menjadi suatu budaya yang bertumbuh dan berakar. Mengapa pemahaman tersebut bisa terjadi? Itu dikarenakan sedikit dari kita yang ingin berinvestasi, dalam hal ini memiliki pengetahuan bagaimana berpacaran atau tepatnya mencari pasangan hidup.

Kebanyakan memiliki pengetahuan dari melihat, bahkan ada yang mengatakan itu adalah naluri. Yang menjadi masalah, dari mana kita melihat dan darimana datangnya naluri tersebut? Jika yang dilihat adalah contoh yang benar, bersyukurlah, tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka salahlah pengetahuannya. Saya ingin mengambil contoh yang sederhana. Saat ini begitu banyak film-film romantis yang beredar, mulai dari produksi lokal, Korea, Holywood hingga Bolywood. Ada Apa dengan Cinta, At the Dolphin Bay, Serendipity, hingga My Name is Khan, merupakan contoh-contoh yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Ketika menonton film-film tersebut, perasaan kita seolah-olah “dimainkan”, sehingga memunculkan suatu pemikiran bahwa “love is cool”, bahwa kontak fisik, seperti berciuman,dll ketika berpacaran, menjadi suatu hal yang wajar dan keren. Belum lagi novel-novel romantis (teenlite) yang begitu digandrungi anak-anak muda. Dari situlah kebanyakan kita mendapatkan pengetahuan dalam berpacaran dan mencari pasangan hidup. Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa kita harus berhenti total dari menonton film-film tersebut, karena saya pribadipun senang menontonnya. Tetapi pastikan bahwa kita sudah memiliki pandangan yang benar, sehingga kita bisa menyaring mana yang benar dan mana yang salah.

Yang sering terjadi, ketika harapan keindahan yang berawal dari sebuah film/novel tidak sesuai dengan kenyataan pada saat berpacaran, maka kekecewaanlah yang muncul. Tidak sedikit juga yang kecewa karena cinta, sehingga muncul akar pahit dan hidupnya dikendalikan oleh akar pahit tersebut. Akibatnya, orang-orang tersebut menjadi insecure (tidak aman) dalam hidupnya, yang menyebabkan potensi serta bakat-bakat yang ada dalam hidupnya tidak digunakan. Pada posisi inilah, Iblis akan bersorak-sorai.

Untuk segala sesuatu yang ingin kita kuasai, kita diharuskan untuk belajar. Seorang ahli statistik, ketika ingin menguasai sebuah metode penarikan sample yang paling tepat ketika diperhadapkan dengan sebuah kasus, maka mau tidak mau dia harus belajar serangkaian teori sebelumnya. Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama dalam hal mencari pasangan hidup? Kita harus berinvestasi, dalam hal ini memiliki pengetahuan yang bukan sekedar baik tetapi benar. Sebagai orang percaya, setiap kita telah diberikan sebuah panduan hidup yaitu Alkitab. Dari Alkitab-lah maka “teori-teori” mencari pasangan hidup tersebut dijelaskan, juga bagaimana menjalaninya. Memang tidak dijelaskan secara rinci, karena dalam prakteknya, Roh Kuduslah yang akan memimpin kita.

……. (bersambung………)

2 thoughts on “healthy relationship.. (in dating).. part 1

  1. ini toh blogsnya, akhirnya ku baca jg….

    hahahahaaa….

    keren deh…….

    terus menjadi berkat yawh ka’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s