healthy relationship.. (in dating).. part 2

love-you-shirt

Ketika pertanyaan apakah tujuan berpacaran ditanyakan pada Anda saat ini, dapatkah Anda menjawabnya? Apalagi ketika Anda ingin bahkan sedang berpacaran? Sebagai orang percaya, kita telah ditebus dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus (1 Pet 1:18-19), sudah seharusnya tindakan kita didasarkan pada cara pandang Kristus atau lebih tepatnya firman Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui prinsip dan tujuan berpacaran yang sesuai firman Tuhan.

Pertama , adalah memuliakan Tuhan. “Apapun yang kamu perbuat perbuatlah dengan segenap hatimu, seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia” (Kol 3:23). Firman Tuhan mengatakan “apapun”, berarti berpacaran termasuk di dalamnya. Ketika pasangan yang telah berpacaran mengerti tujuan ini, maka mereka akan berusaha mencari kegiatan-kegiatan berpacaran yang mendukung hal tersebut. Saya pribadi senang, bahkan sangat mendukung ketika ada teman-teman yang berpacaran sama-sama memiliki kerinduan dalam melayani. Bahwa passion/gairah mereka yang sama dalam melayani akan mengarahkan mereka kepada kegiatan-kegiatan yang bisa saling mendukung pelayanan mereka.

Kedua, adalah membagikan kasih. Beberapa minggu yang lalu, saya dibukakan tentang arti membina sebuah hubungan yang sebenarnya lewat sebuah kutipan, “Relationship is a place to give, not a place to take”. Hubungan adalah sebuah tempat untuk memberi/berbagi, bukan tempat untuk mengambil. Ketika kita terlalu banyak menuntut mendapatkan “sesuatu” dari pasangan kita atau memperoleh “sesuatu” dari berpacaran, maka kekecewaanlah yang akan kita temui. Karena nantinya dalam membina sebuah hubungan, baik berpacaran bahkan ketika menikah nanti, pengorbanan dan pengertian akan menjadi bagian didalamnya. Saya sendiri belum menikah, tetapi banyak saya mendengar dari mereka yang telah menikah, bahwa dalam pernikahan akan dituntut lebih banyak pengorbanan/saling pengertian. Adalah lebih baik dalam masa berpacaran, kita melatih hal-hal tersebut.
Mat 22:29 : ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Kita berusaha untuk mengasihi siapapun, termasuk pasangan kita. Mengasihi juga berarti menerima bukan hanya kelebihan pasangan kita, tetapi kekurangan-kekurangannya juga. Dengan demikian pasangan tersebut, akan saling menikmati hubungan mereka, karena ada rasa saling menghargai dan menopang, baik dalam kelemahan maupun dalam kelebihan.

Ketiga, dalam kekudusan. “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang adalah kudus, yang telah memanggil kamu. Sebab ada tertulis: kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1 Pet 1:14-16). Pelanggaran terhadap kekudusan inilah yang menjadi sasaran empuk Iblis dalam berpacaran. Firman Tuhan mengatakan bahwa Ia yang telah memanggil kita, yaitu Kristus adalah kudus, karena itu kitapun diwajibkan untuk kudus, termasuk dalam berpacaran. Terkadang kedekatan kita secara emosional diikuti dengan kedekatan secara fisik. Awalnya ingin bersaat teduh bersama di kost/kontrakan, ujung-ujungnya kita tahu bersaat teduh dimana.

Saya bukan berarti mengatakan bahwa seks adalah buruk, atau pola dalam masyarakat mengatakan bahwa membicarakan seks adalah tabu. Saya tidak setuju! Banyak dari kita karena ketidaktahuan dalam seks menyebabkan salah dalam menggunakannya. Baik pria maupun wanita, diberikan seks sebagai sesuatu yang indah dari Tuhan. Tetapi merupakan bagian kita untuk menjaganya dengan baik hingga pada waktunya nanti, yaitu dalam pernikahan. Bagi setiap kita yang belum menikah, menjadi sebuah perjuangan untuk tetap menjaga pikiran dan perbuatan kita tetap kudus di hadapan Tuhan. Menjadi masalah juga ketika pasangan tidak mampu menjaga hawa nafsunya dalam hubungan berpacaran.

Saya ingin mengatakan kepada para wanita, bahwa yang paling beresiko dalam sebuah hubungan adalah kalian. Mengapa? Baik secara perasaan dan juga fisik, kalian sangat beresiko, jadi saya sangat menyarankan para wanita, tidak menutup kemungkinan juga pria, untuk berhati-hati dalam membina sebuah hubungan, khususnya dalam menjaga kedekatan secara fisik. Ijinkan saya menjelaskannya dari hasil sebuah survey.

Sebuah survey yang dilakukan oleh onepoll.com melibatkan 3000 responden mengemukakakan fakta bahwa pria memikirkan seks rata-rata 13 kali dalam sehari. Jadi, dalam sebulan bisa mencapai 390 kali dan hampir 5000 kali selama setahun! Sedangkan wanita hanya 5 kali sehari (total 1825 kali selama setahun). Kesimpulan dari hasil survei mengungkapkan, bagian terbesar dari otak pria adalah dorongan seks. Hal tersebut dengan mudah kita temukan buktinya dalam kehidupan sehari-hari. Bahan obrolan pria, selain bola dan politik, adalah wanita. Juga bagaimana mata pria yang dengan mudahnya terpikat pada wanita. Dan saya sebagai pria ingin mengatakan jujur tentang hal ini, bahwa itulah yang terjadi. Yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar penguasaan diri kita (para pria), yang akan menentukan seberapa jauh kita (para pria) mengambil keputusan dalam pikiran dan perbuatan.

Jadi pahamilah “kelemahan” pria dalam hal ini. Sedangkan untuk wanita, mereka mudah termakan dengan rayuan-rayuan yang bisa menentramkan hati mereka. Mereka (para wanita) memiliki pemahaman, bahwa pria adalah penggombal sejati. Tetapi tidak sedikit juga yang saya perhatikan tetap termakan dengan rayuan gombal pria, sekalipun memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Kembali lagi sejauh mana penguasaan diri wanita akan menentukan seberapa jauh para wanita mengambil keputusan dalam pikiran dan perbuatan.

Karena itu muncul sebuah filosofi, pria harus menjadi pemain yang taat dan wanita menjadi wasit yang tegas. Artinya? Pria secara seksual lebih mudah terangsang. Jadi wanita harus menjadi wasit yang tegas bila melihat perlakuan pasangannya menjurus kepada hal-hal yang melanggar kekudusan, wanita harus bertindak tegas untuk memperingatkan, tentunya dilakukan dalam sikap hormat. Jadi dari kelemahan-kelemahan yang ada, juga ditunjang dari film-film romantis dan lagu-lagu sekuler, bahkan lingkungan, menjadikan pacaran sangat rentan terhadap dosa perzinahan. Bahkan Raja Daud yang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, bisa jatuh dalam dosa perzinahan. Awalnya sederhana, dari melihat, kemudian diikuti dengan perbuatan.

Seks bukanlah masalahnya, tetapi hawa nafsulah yang menjadi masalah. Seks yang dilakukan sebelum pernikahan akan membawa masalah bahkan kematian dalam sebuah hubungan. Karena disitulah dosa terjadi. Kita bisa melihat dari Alkitab, bagaimana awalnya hubungan yang begitu erat antara Allah dan manusia, tetapi ketika dosa masuk pada hubungan tersebut, menyebabkan kematian di dalam hubungannya. Kasih berbicara mengenai apa yang bisa kita berikan walaupun itu mengorbankan diri kita pribadi, tetapi hawa nafsu berbicara mengenai apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, jika perlu mengorbankan kepentingan orang lain. Demikianlah yang terjadi ketika seks secara dini sudah dilakukan, hawa nafsulah yang mengendalikan hubungan pacaran.

Keterlibatan fisik bisa membawa pasangan merasa dekat. Tetapi jika benar-benar ingin diuji focus dari hubungan mereka, mungkin mereka akan menemukan bahwa kesamaan yang mereka miliki adalah hawa nafsu.

Seks terjadi ketika ada sebuah keintiman, dan daya intim seks yang terbesar yaitu pada saat pertama kali digunakan. Saya mengambil contoh sebuah lakban. Daya lekat lakban yang paling kuat yaitu pada saat dilekatkan pada sebuah media, misalnya di dinding. Ketika lakban tersebut dicabut, dan ditempelkan ke media lainnya, maka daya lekat lakban tersebut telah berkurang. Bahkan jejak lekat lakban tersebut masih tertempel pada dinding yang pertama ketika ditempelkan. Demikian halnya dengan seks. Seks memiliki daya lekat/keintiman yang paling besar yaitu pada saat pertama kali digunakan dan dilakukan dengan (satu) orang yang tepat. Ketika seks tidak digunakan pada waktu dan orang yang tepat, lalu kemudian berganti pasangan, ganti lagi, dan seterusnya, tidak heran, jika seks menjadi sesuatu masalah dalam pernikahan nantinya. Karena daya lekat/daya intimnya yang paling besar sudah tidak ada. Dan yang menjadi masalah, jejaknya tertinggal di mana-mana (pada pasangan demi pasangan).

Jadi buatlah batasan fisik yang jelas ketika berpacaran. Hindari tempat-tempat yang bisa mengundang Iblis melancarkan serangannya, berduaan di tempat yang sepi, gelap, bahkan di kost atau kontrakan yang dalam keadaan sunyi! Bahwa hubungan fisik dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu bergandengan tangan. Bergandengan tangan yang saya maksud, bukan ketika kita akan menyebrang, lalu terjadi kontak fisik memegangi tangan pasangan kita. Buat saya sangat wajar, ketika hal itu terjadi pada kondisi tersebut, karena wanita pada dasarnya membutuhkan perlindungan dalam keadaan tertekan, dan sebagai pria, sudah hukumnya kita melindungi mereka. Yang saya maksudkan disini adalah berpegangan tangan secara romantik. Secepat apa kita mulai berpegangan tangan, maka secepat itu juga kontak fisik lainnya akan berkembang ketika tidak memiliki batasan yang jelas, yang nantinya bisa membawa kita pada sex before marriage.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s