escaped death

Setiap kita, manusia, punya batas waktunya di dunia ini. Suati hari nanti, kita akan check out dari “hotel” yang bernama dunia. Pernahkah Anda merasakan “lolos” dari yang namanya proses check out tersebut alias kematian? Sehingga Anda menyadari sesungguhnya bahwa hidup mati itu di tanganNya? Berikut saya ingin membagikan pengalaman hidup “lolos” dari yang namanya kematian, setidaknya sampai sekarang (24 tahun) saya hidup, dua kali sudah saya merasakan “lolos” dari kematian. Syukur ku panjatkan, bahwa Dia masih memberikan waktu, tepatnya kepercayaan untuk terus berkarya di dunia ini.

Kejadian pertama, saya ingat jelas terjadi ketika saya berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Waktu itu sedang mengikuti rombongan karya wisata GPIB Immanuel Surabaya ke Malang, dan sekitarnya. Kami mampir ke daerah yang bernama Selecta. Di sana terkenal dengan kolam renang dan taman bunga beserta permainan untuk anak-anak. Saya memilih untuk berenang. Kita sudah diwanti-wanti untuk berenang di kolam khusus untuk anak-anak, dengan kedalaman sekitar 1 meter. Waktu itu saya belum tahu berenang. Yang saya lakukan hanyalah berpegangan di pinggir kolam dan mulai menaikkan kaki dan menggerak-gerakkannya. Tiba-tiba teman saya meloncat dari atas kolam dan dengan gaya bebasnya dia mulai berenang dari tepi kolam yang satu ke tepi kolam yang lain. Terlihat begitu mudah untuk berenang dengan gaya tersebut. Sebenarnya sama persis dengan yang saya lakukan, bedanya saya masih berpegangan di tepi kolam dan tidak bergerak maju😀 . Dengan pe-de– nya saya mulai mengikuti gaya bebas tersebut. Perlahan mulai maju, 2-5 meter berlangsung dengan baik.

Tetapi… Tiba-tiba saya tenggelam, berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari air, tetapi tidak bisa. Yang bisa saya lakukan hanyalah bergulat terus dalam air. Air kolam pun mulai terminum. Berusaha untuk teriak tetapi tidak bisa. Yang saya pikirkan bahwa tak lama lagi saya akan meninggal, tetapi masih terus berusaha untuk keluar dari air. Tidak ada teman-teman yang menyadari apa yang terjadi terhadap saya. Tetapi bersyukur, tak lama kemudian, yang sampai sekarang, saya pun tidak tahu bagaimana caranya, saya sudah bisa berdiri di pinggiran kolam dan mulai terbatuk-batuk. Bersyukur masih bisa menghirup udara segar kota Malang. Masih diberikan kesempatan oleh-Nya.

Kejadian kedua, berlangsung akhir tahun lalu tahun 2009, sekitar bulan November. Saya sedang sibuk mengurus segala hal administrasi dari perawatan mama teman saya, Bayu Respati, di RS UKI. Masih dipusingkan dengan berbagai macam adminsitrasi RS, tiba-tiba diperhadapkan dengan pergumulan yang baru lagi. Adik teman saya, masih satu rumah dengan Bayu, yaitu Marco harus segera dilarikan ke RS dikarenakan hampir sekujur tubuhnya tersiram air panas. Saya ingat dengan jelas, waktu itu habis menebus obat di apotek Djatinegara di daerah Berlan. Ketika mampir untuk mencari foto di rumah Bayu, saya melihat tubuh adik Marco gemetar, sekujur tubuhnya sudah diolesi lendir lidah buaya, tubuhnya sudah melepuh, kemerah-merahan. Saya tak tahu harus berbuat apa, yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakannya dalam hati. Saya ingat dengan jelas kejadian tersebut sekitar pukul 14.10.

3 jam kemudian, sekitar pukul 17.00, Marco sudah berada di RS UKI, dan kondisinya kritis. Ternyata bakarnya sudah mencapai tahap parah. Dia gemetar, ketakutan terlihat sangat jelas di matanya. Akhirnya saya harus mengurus proses administrasi RS untuk penangan dini sebelum hal yang terburuk menimpanya. Saya harus bernegosiasi dengan pihak RS, dokter, perawat dan sebagainya. Yang saya pinta adalah berikanlah penanganan terlebih dahulu, untuk administrasi bisa diusahakan setelah itu. Tetapi mereka harus meminta kesediaan tepatnya jaminan untuk bisa dilakukan tindakan medis. Saya hanya bisa meneteskan air mata. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bersyukur untuk sahabat-sahabat tepatnya saudara PPO Hosanna yang selalu ada. Kami berdoa di samping UGD UKI, berharap ada sebuah keajaiban yang bisa terjadi. Dan Tuhan memang baik, Dia memberikan jalan keluar semuanya tepat pada waktunya.

Proses penangana dini pun telah terlaksana. Dokter memanggil keluarga, dan disitu dijelaskan bahwa Marco dalam keadaan kritis dan harus segera ditanganidi bagian ICU khusus untuk anak dan di UKI belum tersedia. Yang ada hanya di RS Pertamina, RS Cipto, dan RS PGI Cikini. Disinilah petualangan dimulai. Bersama teman, Yani Delon, kami berusaha mencari informasi tentang ketiga RS tersebut, adakah ruangan yang kosong dan apakah bisa pasien masuk dulu, baru urusan administrasi belakangan. Mengingat kondisi adik kami kritis.
Menggunakan motor Honda Blade, saya dan Yani mulai bergerak menuju ke RS Cipto dan Cikini, karena itu yang paling mungkin untuk terjangkau dalam waktu dekat. Saya dibonceng Yani.

Tepat di terowongan UKI, motor dalam keadaan cepat, mengingat kami dalam posisi turun ke arah terowongan, sebuah motor tiba-tiba menyenggol kami. Motor tersebut dalam kecepatan penuh juga. Dan dalam hitungan detik, kami jatuh di terowongan tersebut. Kepala saya terseret beberapa meter di aspal, tepat di bagian dagu. Beruntung saya menggunakan helm full face. Motor terseret jauh ke depan. Yani jatuh mengikuti arah motor, sedangkan saya berada di belakang. Terowongan saat itu sedang ramai. Saya tidak mengingat apa-apa lagi. Keadaan tiba-tiba menjadi tenang, sunyi. Saya berpikir, saya telah berada di dunia lain. Tiba-tiba suara Yani menyadarkan saya. Ternyata saya masih hidup. Yani sempat melihat bahwa 2 meter di samping saya pada saat posisi saya terseret di jalan, ada truck yang bergerak. Kalau 2 meter posisi saya bergeser lagi, saya tidak bisa menulis pengalaman ini di blog.

Ada beberapa hal yang benar-benar harus saya syukuri. Waktu itu saya menggunakan topi, seingat saya, posisi topi tidak saya arahkan ke belakang, tetapi kea rah depan, yang membuat posisi helm full face tidak menutupi wajah saya seutuhnya. Tetapi setelah sadar, posisi topi ternyata menghadap belakang dan wajah saya terlindungi. Kalau tidak, dagu saya sudah habis terkikis aspal jalanan. Kedua, saya juga tidak tahu bagaimana caranya, kunci motor ada di genggaman tangan saya. Padahal saya berada dalam posisi membonceng, dan mana sempat berpikir untuk mengamankan kunci motor pada saat ditabrak. Ketiga, luka kami “hanya” di bagian tangan dan kaki. Yang pasti luka-luka tersebut sangat menyiksa. Apalagi sempat membuat infeksi pada Yani yang menyebabkan tubuhnya demam. Dan itu sangat menyiksa saya ketika proses revisi skripsi berlangsung. Saya harus naik turun tangga jembatan penyebrangan dan kampus untuk menemui dosen.

Kejadian-kejadian tersebut meninggalkan trauma buat kehiduapan saya. Yang pertama trauma untuk berenang dan yang kedua trauma membawa motor, juga trauma menuruni terowongan. Tetapi saya harus melawannya. Tidak ingin hidup ini terpenjara oleh trauma. Perlahan namun pasti saya bisa keluar dari trauma tersebut. Sekarang, berenang dan mengendarai motor bukan menjadi momok buat saya.

Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk hidup. Saya sangat bersyukur untuk ini. Saya semakin menyadari bahwa Dia-lah yang memegang hidup kita. Bagaimana tuntunan dan perlindunganNya yang akan selalu menjaga dan menuntun kehidupan saya.

So, thanks God for everything.. You are my Father, Provider, You are my Deliverer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s