Cloud Computing

Image

Semakin banyak kita kenal  jejaring sosial seperti Facebook, Youtube dan Twitter, hingga pengunaan aplikasi smartphone lewat blackberry messenger (bbm). Tak bisa dipungkiri  bahwa informasi lebih cepat diperoleh lewat jejaring sosial tersebut.  Contohnya yang marak akhir-akhir ini, dengan cepat informasi  lewat Twitter bahwa sang superstar, Justin Bibier dituduh merendahkan Indonesia, aksi koboy palmerah yang diunggah di Youtube hingga transkrip percakapan  BBM Angie Sondakh, yang mampu diungkap KPK. Hal-hal tersebut membuktikan bahwa jejaring sosial telah menjadi trendsetter masyarakat  dalam berkomunikasi. Bukan hanya di sisi user/pengguna, bahkan penyedia aplikasi-aplikasi tersebut saling berkompetisi. Kita melihat bagaimana Facebook dan Twitter bersaing untuk mendapatkan sebuah aplikasi photo editing dimana hasilnya bisa langsung disharingkan, yang bernama Instagram. Tak tanggug-tanggung, Facebook membelinya seharga Rp. 9 trilyun. Hal tersebut dilakukan dengan satu tujuan untuk memudahkan dan memanjakan para user dalam berkomunikasi/berinteraksi dalam aplikasinya. Tak kalah juga datang dari Indonesia, produk lokal jejaring sosial mirip Facebook buatan pemuda kota Bitung, Mitchell Roger Wenas, lewat situsnya bacary.com telah menjadi perbincangan di dunia maya (hingga tulisan ini dibuat sudah memiliki anggota sebanyak 5378 orang).

Situs bacary.com

Sedangkan di sisi enterprise,  semakin berkembangnya  teknologi bernama cloud computing. Perkembangan IT saat ini menuntut bahwa layanan dapat dilakukan secara terdistribusi dan parallel secara remote dan dapat berjalan di berbagai device/peralatan, hingga dapat dilihat dari berbagai macam teknologi baik secara outsourcing hingga penggunaan eksternal data center. Cloud computing merupakan model yang memungkinkan dukungan layanan yang disebut ”Everything-as-a-service” (XaaS).  Dengan demikian dapat mengintegrasikan virtualized physical sources, virtualized infrastructure, seperti juga sebaik virtualized middleware platform dan aplikasi bisnis yang dibuat untuk pelanggan di dalam cloud tersebut.

Apa sebenanarnya cloud computing? Untuk mempermudah pengertiannya, saya akan membawa pembaca pada sebuah analogi sebagai berikut :

Setiap rumah tangga (RT) menggunakan listrik. Untuk menikmati listrik tersebut RT tidak perlu membangun infrastruktur pembangkit tenaga listrik masing-masing. RT hanya perlu mendaftar di PLN, kemudian membayar segala pemakaian listrik setiap bulannya. RT tidak perlu mengetahui bagaimana PLN memenuhi kebutuhan listrik,  pemasangan/instalasinya, perbaikan kerusakan, hingga perawatan alat-alatnya. RT hanya tahu menggunakan dan komplain ketika ada masalah, sedangkan PLN bertindak sebagai penyedia listrik tersebut.

Demikian juga dalam teknologi cloud computing, dimana cloud computing bertindak sebagai PLN yang memberikan layanan, sedangkan user sebagai pengguna sama halnya seperti RT. User bisa meminta layanan seperti apa, beban sebesar apa, dan juga jaminan perawatan dan keamanan. Jadi cloud computing adalah pemanfaatan teknologi komputer (computing) lewat infrastruktur internet (cloud) yang bersifat  openness (terbuka), share (berbagi), collaborations (kerjasama), mobile (bergerak), easy maintenance (perawatan yang mudah), one click (sekali klik), distribuded (tersebar) dan transparan. Dengan adanya cloud computing maka user tidak perlu menggunakan sistem operasi tertentu, tidak membutuhkan harddisk secara fisik, tidak perlu menginstall aplikasi-aplikasi, tidak melakukan upgrade computer, hingga tidak membutuhkan data center server karena semuanya berbasis virtual dan online.  Dengan demikian mampu menekan IT infrastructure cost karena semuanya telah disediakan oleh teknologi cloud computing.  Jika user tidak berada di kantor atau sedang ke luar kota, tidak perlu repot-repot membawa komputer/laptop pribadi, karena personal data/computer kantor  dapat diakses di mana saja sepanjang terkoneksi dengan internet.

Image

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Microsoft dan IDC (International Data Corporation) bahwa teknologi cloud akan menyediakan 14 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2014. Cukup aneh terdengar. Dimana teknologi ini sebenarnya akan memangkas pengelola/server maintenance, developer hingga programmer personal perusahaan.  Alasan ini cukup mendasar mengingat jenis-jenis layanan yang ditawarkan cloud computing adalah:

  1. Software as a service (Saas)
    User (pengguna) tinggal menggunakan aplikasi yang disediakan dengan berbasis web interface/ web 2.0. Contohnya adalah layanan email (Yahoomail, Gmail), sosial network (Facebook, Twitter) hingga video streaming (Youtube, TV-online). Dalam perkembangan selanjutnya, bahwa aplikasi-aplikasi perkantoran yang dulunya bersifat stand alone (diinstall dan hanya bisa digunakan di computer tersebut), kini tidak perlu diinstall tetapi tinggal membeli license dan bisa langsung digunakan selama terkoneksi  internet. Contohnya adalah Jasfilin.com, yaitu software akuntansi cloud computing pertama di Indonesia, Microsoft dengan Office 365, hingga Adobe Creative Cloud.
  2. Platform as a service (PaaS)
    Layanan ini memberikan kemudahan bagi developer untuk tetap fokus pada aplikasi yang dikembangkan tanpa perlu mengkhawatirkan penggunaan hardware, system operasi, infrastructure scaling, hingga load balancing. Developer membuat aplikasi pada platform yang ada lewat internet. Salah satu contohnya adalah Facebook. Bisa dikatakan bahwa Facebook adalah penyedia PaaS, lewat layanan game-game onlinenya, seperti Poker atau Farmville hingga permainan lokal seperti Ketak-Ketik.
  3. Infrastructure as a service (IaaS)
    Layanan ini hanya menyewakan IT infrastructure seperti storage, memory, operating system, hingga server dan bandwithnya. Pelanggan dapat melakukan penambahan/pengurangan kapasitas secara fleksibel dan otomatis. Contohnya adalah layanan Amazon lewat Amazon EC2 (Elastic Computing Cloud).

Lalu sejauh mana kesiapan kita menyambut teknologi tersebut? Mampukah Indonesia menyerap penggunaan teknologi cloud computing ini dengan berbagai resiko dibaliknya? Yang menjadi perhatian utama tentunya dalam sisi security/kemanan, privacy, realibilitas hingga interoperabilitas (kemampuan komunikasi antar system) hingga perbandingan harga sebagai sebuah strategi bisnis. Dibutuhkan SDM yang cakap dan handal.  Menurut saya, Indonesia harus banyak berbenah, terlebih dalam pembangunan infrastruktur internet.  Kualitas Indonesia Internet Exchange (IIX) yang mampu menghubungkan Internet Service Provider (ISP), Network Access Provider), hingga Telco di ringroad nasional harus semakin ditingkatkan. Dikarenakan semua interkoneksi ini ada di dalam gedung Cyber, Kuningan Jakarta membuat ISP-ISP yang rata-rata berada di Pulau Jawa lebih mudah dan murah dalam membangun jaringannya, berbeda dengan yang berada di luar Pulau Jawa, karena biaya link fisiknya akan semakin meningkat. Berharap jaringan IIX semakin meningkatkan backbone-nya sehingga teknologi cloud computing mampu diserap dengan baik di seluruh pelosok Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s