Road to pe En es

Kali ini mo ceritain haru biru perjalanan menuju pekerjaan saya sekarang, menjadi abdi pemerintah a.k.a PNS……….

Dimulai tahun 2003. Selulus SMA, saya mulai berpikir untuk melanjutkan kuliah di mana. Saya punya mimpi untuk melanjutkan kuliah di pulau jawa, selain karena lebih berkualitas, tentunya saya ingin mengejar pengalaman hidup, ga cuma bolak-balik di kampung tok, heheee… Tentunya ga sembarangan memilih kampus, cos mesti cari yang bisa terjangkau karena Mom juga sementara mengongkosi kakak yang juga sedang kuliah dan kondisi perekonomian kami tidaklah seberuntung teman2 lain yang bisa memilih kuliah di mana saja, jadi mesti ada perhitungan.  Maka saya mencoba cari-cari perkuliahan yang gratis yang penting di pulau Jawa. Setelah cari sana-sini (padahal cuma dengar dari mulut ke mulut saja, maklum jaman itu internet belumlah semudah sekarang),didapatlah Perguruan Tinggi Kedinasan,  yaitu STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) dan STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara). Melihat track record nilai-nilai serta prestasi SMA, saya optimis bisa lolos di salah satu PTK tersebut. Ternyata tes awal STPDN mengeluarkan biaya yang besar, karena banyaknya persyaratan dan administrasi yang harus dilengkapi terlebih dahulu. Akhirnya setelah mengikuti berbagai macam tes dengan optimis tingggi, saya gagal pada tahap psikotes.. Serasa hancur, tapi masih ada harapan, cos tes STAN belum dilaksanakan.

Tes STAN saya jalani, di aula UNSRAT, yang ikut buaaanyyakk banget. Ternyata peminatnya banyak. Saya mendaftar di bagian perpajakan. Soal-soal yang ada dengan mudah saya kerjakan, bahkan sebelum waktu pengerjaan habis, saya sudah selesai. Jadi optimis membumbung kali ini akan tembus. Sampai tiba hari pengumuman, yang melihat pengumumannya adalah kakak saya,setelah dicari-cari ternyata nama saya tidak ada, alias dinyatakan tidak lulus. Kali ini benar-benar hancur..

Di tengah-tengah kehancuran tersebut, saya coba ikut-ikutan temen mendaftar di UNIMA jurusan Matematika. Akhirnya saya ikuti Ospek dan sempat kaget, ternyata banyak kakak-kakak tingkat yang mengenal saya, ternyata mereka tahu sewaktu mengikuti Lomba Tahunan Matematika di UNIMA, jadi udah ada diketahui track record saya, haahaha… Tetapi sangat disayangkan, karena berjalan dari kegagalan, saya angin-anginan kuliah, dan akhirnya pindah ke fakultas Ekonomi, hingga akhirnya saya berhenti di semester 2…

Tahun 2004, saya mencoba peruntungan. Masih dengan tekad bahwa saya ingin kuliah di pulau Jawa. Kepada orang tua saya bilang sambil melihat koper butut warna coklat (terakhir saya tinggalkan itu di kostan Jakarta, hahaha, padahal ada nilai historisnya) bahwa koper itu akan membawa saya ke Jawa. Kali ini saya mencoba Perguruan Tinggi Kedinasan STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), STIE Eben Haezar jurusan Akutansi dan Akademi Fisioterapi. Setelah melewati berbagai macam tes, puji Tuhan ketiga-tiganya lulus, untuk STIS saya mewakili Sulawesi Utara, hanya 2 orang yang lolos. Jadi saya memilih STIS, doa saya dijawab Tuhan… Kembali saya menginjakkan kota metropolitan Jakarta tepat di hari Pemilihan Presiden masa bakti 2004-2009. Di lain posting saya akan ceritakan bagaimana pengalaman di STIS.

Ternyata mental saya tidak siap untuk berpisah dengan orang tua dan bertarung di Jakarta sendirian, juga berbagai macam isu2 negatif yang berkembang saat itu di kampus. Hal tersebut sungguh menggangu konsentrasi kuliah sehingga membuat saya ingin cepat2 pulang. Tetapi terlanjur terikat dengan ikatan dinas, maka saya harus menyelesaikan perkuliahan baru bisa keluar dari kampus, tetapi hal tersebut bisa dipercepat yaitu dengan jalan Drop Out alias DO, dimana nahasiswa akan dinyatakan gugur ketika nilai beberapa mata kuliah unggulan hanya mencapai nilai D. Dan saya memilih jalan tersebut agar bisa cepat pulang, yaitu dengan tidak mengisi semua lembar jawaban ujian sehingga dinyatakan gagal dan harapan saya untuk bisa pulang ke kampung halaman bisa terpenuhi.Alhasil nilai saya tidaklah mencukupi standar dan siap-siap untuk keluar dari kampus tersebut.

Tetapi Tuhan menegur dan memberikan saya kesempatan, juga saya menyesali dengan apa yang telah dilakukan, tetapi apa dikata, nilai2 saya tidak mencukupi dan saya harus keluar dari kampus tersebut. Saya tidak kecewa dengan Tuhan, sebab itulah keinginan dan doa saya selama masa-masa awal di STIS yaitu keluar dari kampus tersebut. Teman-teman persekutuan menyadarkan saya dan memberikan saya semangat untuk bangkit kembali dan melanjutkan perkuliahan.

Menyadari kesalahan tersebut, saya kemudian memilih untuk terus melanjutkan studi di  Jakarta. Mencari tempat perkuliahan yang terjangkau secara materi, karena ga murah biaya hidup dan perkuliahan di Jakarta. Saya sudah tidak mencoba Univ Negeri, karena dah hilang kemauan untuk lagi-lagi bertempur dengan berbagai macam tes. Maka pilihan saya jatuh di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Bina Sarana Informatika (BSI). Saya mengambil jurusan Teknik Komputer. Memasuki semester 4, kampus membuka lowongan magang sebagai Technichal Support di kampus, mengingat cabang kampus ini banyak banget, maka sangat dibutuhkan tenaga tersebut. Maka saya mencoba untuk melamar dan akhirnya diterima. Saya mendapat tugas di BSI cabang Cengkareng dan Salemba 45. Banyak sekali yang saya pelajari dari magang ini, khususnya dalam hal bongkar pasang reparasi komputer, laptop, hingga membangun jaringan LAN, WAN, hingga tester berbagai jenis software. Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika setiap tahun ajaran baru, kami harus mengecek seluruh komputer, jaringan, dan peralatan ICT lainnya di seluruh kampus di BSI. Bayangkan kalo ditotal mungkin jumlah komputernya bisa mencapai ribuan. Selama masa magang, saya bersama TS senior yaitu Pak Taufik dan Pak Herman. Mereka yang berjasa mengajari saya banyak hal dalam dunia ICT. Waktu 6 bulan ternyata terasa begitu singkat, kontrak baru kembali disodorkan. Tetapi kali ini saya menolak untuk memperpanjang dengan alasan ingin fokus ke Tugas Akhir. Saya pun mulai mengerjakan tugas akhir tersebut, dengan project membuat e-goverment system, Pemerintah Daerah.. Akhirnya, bertempat di Balai Sidang Jakarta Convention Center, bulan November tahun 2008, saya diwisuda dan terpilih menjadi lulusan terbaik. Untuk itu saya memperoleh beasiswa full melanjutkan ke jenjang S1 di STMIK Nusa Mandiri, jurusan Teknik Informatika.

Kami kuliah sore hingga malam hari, dimulai jam 5 sore hingga kadang jam 10 malam. Lamanya perkuliahan selama 1 tahun, karena sudah bisa transfer kredit antar dua lembaga pendidikan tersebut. Awal tahun 2009, PT ASTRA Intrnasional (AI) membuka lowongan tenaga Technical Support & Network Engineer. Wow, sapa yang ga kenal AI, perusahaan multinasional yang membawahi distributor Toyota, Daihatsu, Isuzu,Peugeot, hingga Honda, menjadi incaran lulusan-lulusan universitas negeri dan swasta di Indonesia. Dengan modal nekat, maka saya mencoba memasukkan lamaran. Mengapa nekat? Karena saya agak minder dengan hanya lulusan D3 dan dari kampus kecil untuk ukuran Jakarta. Tetapi saya punya keyakinan bahwa jika ini adalah kehendak Tuhan, maka apapun pasti dibukakan jalannya. Amin…

Akhirnya saya dinyatakan lulus administrasi oleh pihak Astra dan dipanggil seleksi tahap 2, tes tertulis di gedung Astra Graphia di bilangan Kramat Jakarta Pusat. Setelah cek per cek, wow,,, saya harus bersaing dengan lulusan-lulusan dari UI, UNJ, Gunadarma, Binus, hingga UBK, yang notabene kampus-kampus elite dan terkenal di Jakarta. Soal pun telah tersedia, setiap ruangan hanya terisi sekitar 5-8 orang dikawal ketat oleh bagian HRD Astra. Dan yang makin menanmbah wow, soal langsung dari komputer dan berbahasa Inggris. hahaaa… untunglah semasa SMA sempat menjadi tim debat bahasa inggris, jadi urusan english biar cuma helloooo bisa lha dikit2, hahaa… Dan setelah bubaran, saling tanya berapa skor tadi. Mengingat setelah tes langsung tertera di komputer berapa nilai yang dicapai. Dan setelah tanya sana sini tentang hasilnya, rata-rata hanya mencapai 400an sedangkan saya mencapai 500an, hahaha,,, di atas angin, tapi saya ga mau cepat2 berbesar hati, mengingat belum tentu apa yang mereka katakan itu benar tentang pencapaian nilai.

Waktu itu sedang tidur2an di kamar kost menunggu jadwal kuliah di jam 5. Tiba2 hp butut berantena bermerk samsung kedap kedip, ternyata HRD AI menelpon saya dan saya dinyatakan lulus untuk kemudian mengikuti tes terakhir yaitu wawancara. Besoknya saya langsung menuju daerah Sunter, Jakarta Utara untuk mengikuti tes tahap akhir. Ini pertama kalinya menginjakkan kaki di gedung AI, anajubilahhh, gedeeee banget… Bayangkan di dalam gedung kantor ternyata ada apartemen karyawan. Total ada sekitar 5 gedung selain gedung utama di sana. Saya menunggu di lobi sambil membaca situasi. Karyawannya mulai berdatangan dengan terburu-buru dan rata-rata bermata sipit, alias etnis-etnis tionghoa, yang terkenal dengan ulet dan tangguhnya mereka. Juga untuk masuk tiap rungan harus menggesek ID card. Saya mulai melamun kalau sampai diterima di sini. Hingga lamunan itu bubar ketika seorang satpam memanggil dan akhirnya mengajak saya ke lantai 8 bertemu dengan Pak Budi, salah satu pimpinan di bagian IT AI. Tanpa basa basi saya langsung ditanya-tanya berbagai macam hal, mulai dari apa motivasi bekerja, mengapa memilih AI, apa yang diketahui tentang AI, riwayat pekerjaan dulu, posisi dan salary yang diinginkan. Wah untuk wawancara seperti ini, saya sudah mempersiapkan malam sebelumnya. Saya googling tentang tips trik wawancara, pertanyaan2 wawancara, dan mempelajari sejarah AI. Dan alhasil ,saya langsung dinyatakan diterima dan mulai bekerja besok harinya. Saya bangga dan bersyukur karena mampu menang dalam persaingan dengan mereka2 yang berasal dari  universitas-universitas besar. Bahwa Tuhanlah yang akan berperang bersama dengan kita dalam apapun yang kita kerjakan dan gumulkan. Dan akhirnya bersama 4 teman lainnya, saya diterima sebagai pegawai AI..

Kurang lebih baru 3 atau 4 bulan bekerja, ternyata menajemen AI memberikan kebijakan bahwa seluruh pegawai baru akan dirolling ke cabang AI di daerah-daerah. Di sana akan disediakan mess, kendaraan, hingga tunjangan-tunjangan. Saya mendapat tempat di Cikarang. Wow.. Pergumulan buat saya ketika itu sedang menyusun skripsi, dan harus sering berkonsultasi dengan dosen pembimbing, mengingat jarak Cikarang-Jakarta cukup jauh dan saat itu juga sebagai pengurus dalam pelayanan persekutuan pemuda dan hal ini yang menjadi pertimbangan utama. Maka lewat pergumulan yang cukup berat, saya akhirnya memilih untuk mengundurkan diri, resign, dari AI. Sangat disayangkan, tetapi saya sudah punya target tersendiri untuk lebih mengutamakan kelulusan sarjana yang sudah di ujung mata.

Akhirnya, November 2010, saya kembali menjalani wisuda di JCC dengan judul skripsi “SISTEM PAKAR KONSELING MASALAH INTERNAL STUDI MAHASISWA BERBASIS WEB STUDI KASUS STMIK NUSA MANDIRI”. Dan kembali menjadi lulusan terbaik. Untuknya saya mendapatkan beasiswa melanjutkan ke jenjang S2 di program pasca sarjana STMIK Nusa Mandiri, dan ditawarkan juga menjadi tenaga pengajar/dosen di sana. Tetapi saya tidak menerimanya, saya berkeinginan untuk mencari pengalaman bekerja dan untuk melanjutkan studi nanti di lain waktu, mimpinya ke luar negeri atau setidaknya di UI atau UGM.. Aminn…🙂

Setelah mendapatkan ijazah di awal bulan Desember, maka saya mulai kirim lamaran ke mana-mana. Kali ini cukup sulit. Sudah hampir akhir tahun tetapi belum satupun panggilan kerja berdatangan. Saya hanya bisa berdoa semoga di awal tahun saya bisa mendapatkan panggilan kerja. Dan Tuhan menjawab doa saya. Pertengahan Januari 2010, saya mendapat 2 panggilan kerja. Yang pertama di salah satu konsultan IT di daerah Kuningan dan yang satunya adalah di Carefour. Setelah melewati berbagai macam tes, yang sudah tidak asing lagi bagi saya, maka saya dinyatakan diterima di kedua perusahaan tersebut dan saya memilih di konsultan IT. Saya lupa nama perusahaannya, yang pasti mereka memiliki client2 perusahaan2 bonafit, kebanyakan di daerah Kuningan. Jadi ketika ada panggilan client, maka kami akan segera ke sana.

Saya juga sempat melamar ke Bina Nusantara Center di daerah Kelapa Gading. Sebuah lembaga di bawah kampus Bina Nusantara, yang begerak di bidang pelatihan/kursus yang menyajikan berbagai macam product, mulai dari short course, in house training, special programme, workshop, akademi, dll.. Saya dipanggil juga untuk tes di sana, dan lagi2 setelah melewati berbagai macam tes, saya dinyatakan diterima. Akhirnya saya resign di perusahaan konsultan IT tersebut dan memilih ke Binus Center. Ini menjadi pilihan saya karena selain nama besar Binus, ini berkaitan juga dengan akademisi, jadi saya lebih tertarik di sini. Dan benar banyak  yang saya pelajari di sini. Di pertengahan tahun, di samping bekerja, saya mengikuti CNAP (Cisco Networking Academy Programme), sebuah akademi perusahaan yang mendukung peralatan jaringan komputer internasional yang sudah mendunia, CISCO. Akademi berlangsung selama 4 semester, dan setelah lulus mendapat gelar CCNA (Cisco Certified Network Associate) sebuah gelar bergengsi dan diakui secara internasional. Jadi itu adalah salah satu tingkatan untuk berkarir di dunia jaringan komputer, dimana perusahaan-perusahaan akan lebih mencari mereka-mereka yang bersertifikasi. Semua materi dan ujian berlangsung secara online dan dalam bahasa inggris. Dan ketika ujian final, saya mendapat nilai 980 dari total maksimal 1000 point, hehe. Jadi secara official, saya bergelar Anderson Padita, S.Kom, CCNA.. Only by God, i can do anything

Visi hidup ternyata membuat saya mulai berpikir tentang ke depan apa yang harus dilakukan. Dalam kesempatan lain, saya akan menceritakan apa yang saya impikan, dan itu menjadi visi saya.. Saya mulai bergumul untuk kembali ke kampung halaman. Sekitar bulan Desember 2011, dibuka lowongan PNS di kota Tomohon. Saat itu, saya berdoa dan bergumul apakah ini jalanNya untuk saya pulang dan mencoba bekerja di dunia pemerintah? Sesuatu yang sangat awam bagi saya. Saya pun mencoba mendaftar di bagian pranata komputer. Tes saat itu, kalau tidak salah di hari Sabtu 17 Desember 2011, maka saya mengambil cuti untuk pulang hari Jumat 16 Desember 2011. Dan sorenya di hari Sabtu, setelah mengikuti tes di siang harinya, saya langsung kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan kerja di Binus… Niat banget ya, hahaaa… Saya hanya bisa berdoa, bahwa apa yang telah saya perjuangkan diberkati Tuhan. Hari Kamis sore di minggu depannya, Mama saya menelpon bahwa nama saya tertera dan dinyatakan lulus tes tertulis (sesuatu yang saya harapkan 7 tahun yang lalu, baik di STAN maupun di STPDN, baru bisa terwujud). Maka di minggu itu, saya langsung mengajukan resign dari Binus dan dengan buru-buru saya mempersiapkan kepulangan saya ke Menado…  Dan hingga hari ini saya bekerja sebagai PNS di Dinas Pendidikan Kota Tomohon.

Ketika saya merenungkan hal ini, saya sungguh bersyukur atas apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup. Bahwa kasih setia Tuhan selalu baru. Dalam semua kebodohan, menyia-nyiakan kesempatan dan berbagai ketidak setiaan saya, Tuhan selalu baik bahkan Ia selalu membawa dari satu kemenangan ke kemenangan lainnya, He brings out from glory to glory. Saya sudah membuktikan, bahwa ketika menyerahkan seutuhnya masa depan kita dalam tanganNya, maka yang terbaiklah Ia berikan. Dalam segala kelalaian kita, Dia tidak pernah lalai, bahkan Ia memberi harapan dan kemenangan yang baru.

God may deny our request,
but He will never disappoint our trust 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s