healthy relationship.. (in dating).. part 3

550px-Love-Step-1

Mungkin terdengar begitu ekstrim hal-hal yang saya sampaikan, mungkin juga ketika kita memilih menjaga kontak fisik, terlihat aneh di antara teman-teman lain yang berpacaran. Bahwa seolah-olah kita tidak care/peduli terhadap pasangan, tidak romantis dan sebagainya. Itu merupakan konsekuensi yang ada ketika kita berjalan dalam kehendakNya. Menurut saya, pasangan seperti itu adalah pasangan yang sangat menghargai dan mengasihi pasangannya. Dia ingin membuktikan kesabaran dan ketulusannya dalam masa berpacaran, sehingga kelak dalam pernikahan mereka akan sangat menikmati hubungan yang ada. Prinsipnya, semakin banyak yang kita dapatkan (hubungan fisik) ketika berpacaran, maka semakin sedikit yang bisa kita nikmati kelak ketika menikah.

Hawa nafsu juga berbicara ketika pasangan “mengisolasi” pasangannya dari hubungan lainnya ketika berpacaran. Bahwa ketika sudah menjadi pacar, maka pasangannya tersebut tidak boleh bergaul erat dengan orang lain, merupakan suatu pemahaman yang keliru. Ada yang sampai mengorbankan hubungan yang telah terbangun sekian lama dengan sahabat-sahabatnya dan bahkan hubungan dengan keluarga, hanya untuk menuruti keinginan pasangannya. Bahwa ketika melihat atau mendengar pasangannya sedang bersama dengan orang lain (khususnya lawan jenis), menjadi marah. Hal-hal tersebut membuat seseorang yang terlibat dalam pacaran menjadi tertutup dan tidak mau menceritakan ke orang lain apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Seharusnya dalam berpacaran kita harus be opened not be privated. Kita harus terbuka ketika pacaran dan tertutup ketika sudah menikah. Tanya pendapat orang tua dan sahabat-sahabat kita mengenai pacar kita. Ironisnya, saya menemukan pribadi yang awalnya saya kenal begitu rindu melayani, tetapi ketika mempunyai pacar, dia menjadi begitu tertutup dan lama kelamaan mundur dari pelayanan. Bukan hanya mundur dalam pelayanan, tetapi mundur juga dari lingkungan yang sebenarnya sangat mendukung dia dalam kehidupannya. Itu dilakukan demi kekasih hatinya. Wow!

Demikianlah 3 tujuan berpacaran yang seharusnya menjadi pemahaman ketika berpacaran. Semenjak kejatuhan manusia dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah terputus, menyebabkan ada sesuatu yang hilang dalam diri manusia, saya meminjam istilah ada hole/lubang di hati. Lubang itulah yang membuat kita seolah-olah tidak utuh dan tidak lengkap. Bersyukur bahwa Kristus telah mengorbankan dirinya di kayu salib untuk mengadakan pendamaian hubungan antara kita dengan Bapa. Seharusnya “lubang” tersebut kita isi dengan kasih Kristus, sehingga akan membuat kita menjadi pribadi yang utuh dan complete.

Pada keadaan utuh dan complete inilah, kita siap untuk menjalani hubungan dengan orang lain. Karena kasih Kristus telah menjadi bagian kita dan kita siap untuk membagikan kasih tersebut kepada orang lain, termasuk pasangan. Bahwa bukan hanya kita yang utuh dan complete, tetapi pasangan kita seharusnya demikian juga. Sehingga tidak terjadi tarik-menarik untuk saling mengisi kekosongan dalam hidup. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika kita berusaha mengisi lubang tersebut bukan dengan Kristus tetapi dengan suatu pribadi, dalam hal ini pasangan hidup. Bahwa pemikiran pasangan hidup tersebut yang bisa mengisi kekosongan hati kita merupakan sebuah pemikiran yang salah. Mengapa salah? Manusia penuh dengan keterbatasan. Dari keterbatasan tersebut bisa menimbulkan kekecewaan. Manusia bisa mengecewakan tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan. Juga tanpa orang lain dalam hal ini pasangan hidup, kita bisa utuh, complete dan menikmati panggilan hidup kita. Bukankah hal tersebut juga yang terjadi pada Kristus, Rasul Paulus, serta mereka yang “memutuskan” tidak menikah. Bahwa meskipun tidak menikah, mereka tetap menjalani panggilan hidup mereka dengan baik sampai pada akhir hidupnya, karena kasih Bapa menjadi bagian dalam hidup mereka. Karena itu Yesus mengatakan dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Semuanya, termasuk pasangan hidup.

So, selamat menggumulkan pasangan hidup. Ingat keputusan untuk mendapatkan pasangan hidup ada di tangan kita. Kita bukanlah robot yang telah dipasang-pasangkan oleh Tuhan. Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih siapa yang nantinya akan menjadi suami/istri kita. Tentunya untuk mendapatkan pasangan yang berkenan di mataNya, maka kita harus berjalan di dalam koridornya. Ketika kita berjalan dalam koridorNya, maka ada pribadi-pribadi lain juga yang sedang berjalan dalam koridorNya, disitulah kita memilih siapa yang bisa kita jadikan pasangan. Ingat, pernikahan adalah satu kali seumur hidup. Dalam hal ini mendapatkan pasangan hidup yang benar merupakan sesuatu yang penting. Kalau saya umpakan, pasangan kita nantinya seperti bayangan diri kita. Kita akan hidup selamanya, hingga maut memisahkan.

Carilah pasangan hidup yang memiliki dasar iman yang sama. Bahwa dengan berpacaran dengan orang yang memiliki iman berbeda, merupakan kesempatan untuk membawanya dalam Kristus, bukanlah hal yang benar. Alkitab tidak menjelaskan untuk menginjili seseorang lewat pacaran. Bahkan sangat beresiko jika kita menjalin hubungan dengan mereka yang berbeda keyakinan dengan kita. Karena itu Rasul Paulus mengatakan janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.(2 Kor 6:14-15).

Jadilah pribadi yang utuh, gunakan masa lajang sebaik-baiknya dengan mengerahkan setiap talenta yang Tuhan berikan, investasikan yang terbaik untuk masa depan, dan yakinlah Anda akan menjadi pribadi yang layak untuk didapatkan oleh orang yang sama dengan Anda. Ingatlah bahwa sukacita keintiman adalah upah dari sebuah komitmen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s